Sunday, April 29, 2012

Pengaruh Filsafat Yunani dan Romawi Terhadap Filsafat Islam


-->
BAB I

PENDAHULUAN

            A. LATAR BELAKANG MASALAH
Tidak ada sejarah intelektual di dunia islam yang begitu mengharu biru selain sejarah filsafat,baik yang berupa filsafat murni maupun yang berwujud dalam system tasawuf falsafi. Di satu sisi, sumbangannya terhadap kegemilangan paradapan islam tidak bisa di pungkiri, tetapi di sisi lain, filsafat juga di anggap sebagai unsur luar yang mengacak-acak ajaran islam. Kalau antara ilmu fiqih dan ilmu kalam masih bisa bergandengan, maka perseteruan antara fiqih dengan filsafat telah melahirkan sekian klaim pengafiran, bahkan lebih dari itu, pembunuhan.

            B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah diatas dapat kita ketahui bahwa filsafat barat sangat berpengaruh terhadap dunia islam oleh karena itu pada kali ini kami akan membahas “Pengaruh Filsafat Yunani & Filsafat Romawi Terhadap Filsafat Islam”.
           

           












BAB II
PEMBAHASAN
PENGARUH FILSAFAT YUNANI & FILSAFAT ROMAWI TERHADAP FILSAFAT ISLAM

A. Pengaruh Filsafat Yunani Terhadap Filsafat Islam
Menurut catatan para sejarawan, orang yang pertama kali menggunakan istilah filsafat adalah Pythagoras dari Yunani yang lahir antara 582 – 496 SM. Pada waktu itu arti filsafat belum begitu jelas. Kemudian arti filsafat itu diperjelas seperti yang banyak dipakai sekarang ini.[1]
Filosop Yunani, seperti Plato misalnya memberikan definisi filsafat sebagai suatu pengetahuan tentang segala sesuatu. Sedangkan Aritoteles beranggapan, bahwa kewajiban filsafat ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu yang umum sekali.[2]
Pusat-pusat ilmu pengetahuan purbakala yang ada di Yunani dan Alexandria, dan sebelumnya Mesir serta Babylonia maupun Persia, jatuh ke tangan kaum muslimin. Kota-kota seperti Antioch, Harran dan Jundishapur menjadi bagian dari Dar Al-Islam. Menjelang berakhirnya bani Umayyah dan permulaan periode bani Abbasiyah, penerjemahan bahasa-bahasa purbakala mulai dilakukan ke dalam bahasa Arab dengan bantuan orang-orang terpelajar dari berbagai pusat tersebut. Proses penerjemahan memakan waktu hampir 150 hingga 200 tahun yang berhasil menerjemahkan sebagian besar filsafat dan ilmu pengetahuan purbakala ke dalam bahasa Arab dan untuk waktu 700 tahun berikutnya, bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang paling penting di seluruh dunia.[3]
Tentu saja, aktifitas para filsuf muslim di atas bersentuhan dengan penafsiran al-Qur’an. Bahkan kecenderungan menafsirkan al-Qur’an secara filosofis besar sekali. Al-Kindi misalnya yang dikenal sebagai Bapak Arab dan Muslim, berpendapat bahwa untuk memahami al-Qur’an dengan benar isinya harus ditafsirkan secara rasional bahkan filosofis.
Al-Kindi berpendapat bahwa al-Qur’an mengandung ayat-ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan peristiwa-peristiwa alam dan menyingkapkan makna yang lebih dalam dibalik terbit tenggelamnya matahari, berkembang menyusutnya bulan, pasang surutnya air laut dan seterusnya. Ajakan ini merupakan seruan untuk berfilsafat. Seperti halnya Al-Kindi, Ibn Rusyd pun berpendapat demikian. Lebih jauh, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa tujuan dasar filsafat adalah memperoleh pengetahuan yang benar dan berbuat benar. Dalam hal ini, filsafat sesuai dengan agama sebab tujuan agama pun tidak lain adalah menjamin pengetahuan yang benar bagi umat manusia dan menunjukan jalan yang benar bagi kehidupan yang praktis.
Itulah sebabnya, Nurkholis Madjid menyatakan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, filsafat banyak mengandung unsur-unsur dari luar, terutama Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.[4]
Uraian di atas terlihat jelas bahwa di satu sisi, filsafat Islam berkembang setelah umat Islam memiliki hubungan interaksi dengan dunia Yunani, seperti yang disebutkan, baik oleh Ahmad Fuad Al-Ahwani maupun Nurkholis Madjid yang menyatakan bahwa pemakaian kata “filsafat” di dunia Islam digunakan untuk menerjemahkan kata “hikmah” yang ada dalam teks-teks keagamaan Islam, seperti dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dengan demikian, tampak jelas adanya hubungan yang bersifat akomodatif bahwa filsafat Yunani memberi modal dasar dalam pelurusan berpikir yang ditopang sejatinya oleh Al-Qur’an sejak dulu. Secara teologis dapat dikatakan bahwa sumber Al-Qur’an secara azali telah ada maka filsafat Yunani hanya sebagai pembuka, sementara bahan-bahannya sudah ada di dalam Al-Qur’an sebagai desain besar Allah SWT.[5]

B. Pengaruh Filsafat Romawi terhadap Filsafat Islam
Ciri-ciri Fase Hellenisme-Romawi
Meskipun keseluruhan masa Hellenisme Romawi mempunyai corak yang sama, namun apabila mengingat perkembangannya, maka dapat dibagi menjadi tiga masa, dimana tiap-tiap masa mempunyai corak tersendiri.
Masa pertama, masa pertama dimulai dari empat abad sebelum masehi sampai pertengahan abad pertama sebelum masehi. Aliran-aliran yang terdapat didalamnya ialah:
  1. Aliran Stoa (ar-Riwaqiyyah) dengan Zeno sebagai pendirinya. Ia mengajarkan agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi tahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
  2. Aliran Epicure, dengan Epicurus sebagai pendirinya. Aliran ini mengajarkan bahwa kebahagiaan manusia merupakan tujuan utama.
  3. Aliran Skeptis (ragu-ragu) yang meliputi “aliran Phyro” dan “aliran akademi Baru” aliran skeptis mengajarkan bahwa untuk sampai kepada kebenaran, kita harus percaya dulu bahwa segala sesuatu itu tidak benar, kecuali sesudah dapat dibuktikan kebenarannya. Ajaran lain ialah bahwa pengetahuan manusia tidak akan sampai kepada kebenaran, atau dengan perkataan lain mengingkari kebenaran mutlak (obyektif).
  4. Aliran elektika-pertama (aliran seleksi).
Masa kedua ini dimulai dari pertengahan abad pertama sebelum masehi sampai pertengahan abad ketiga masehi. Corak pemikiran pada masa ini ialah seleksi dan penggabungan, yaitu memilih beberapa pikiran filsafat kuno dan menggabungkan pikiran-pikiran itu satu sama lain, atau menggabungkan pikiran-pikiran itu di satu pihak dengan ketentuan agama dan tasawuf timur di lain pihak. Masa ini terkenal dengan adanya ulasan ilmiah terhadap kerja-kerja filosof-filosof Yunani. Aliran yang terdapat pada masa ini ialah; 1) aliran peripatetic terakhir, 2) aliran Stoa baru; 3) aliran epicure baru; 4) aliran Pythagoras, dan 5) aliran filsafat Yahudi dan Plato.
Filsafat Hellenisme Yahudi ialah suatu pemikiran filsafat, di mana filsafat Yahudi dipertemukan dengan kepercayaan Yahudi, dengan jalan penggabungan atau mendekatkan salah satunya kepada lain, atau membuat susunan baru yang mengandung kedua unsur tersebut.
Masa ketiga ini dimulai dari abad ketiga Masehi sampai pertengahan abad keenam masehi di Bizantium dan Roma, atau sampai pertengahan abad ketujuh atau kedelapan di Iskandariah dan Timur dekat (Asia Kecil). Pada masa ketiga ini kita mengenal aliran-aliran 1) Neo platonisme; 2) iskandariah; 3) filsafat di asia kecil, yang terdapat di antiochia, harran, ar ruha dan nissibis. Aliran-aliran ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya ‘aliran Bagdad” yaitu aliran filsafat Islam.
Aliran iskandariah mempunyai corak tersendiri yang lain dari aliran Neo Platonisme, meskipun kedua aliran tersebut memberikan ulasan-ulasan terhadapnya. Perhatian aliran Iskandariah lebih banyak ditujukan kepada lapangan eksakta, seperti matematika, fisika, dari pada kepada lapangan metafisika, bahkan dengan berlalunya masa maka soal-soal metafisika ditinggalkan sama sekali.
Tokoh-tokoh aliran Iskandariah ialah; Hermias, Stepanus, dan Yoannes Philoponos.
Diantara aliran-aliran filsafat dari masa ketiga, Neo Platonisme lah yang terpenting dan yang paling banyak pengaruhnya terhadap filsafat Islam.
Aliran neo platonisme merupakan rangkaian terakhir atau rangkaian sebelum terakhir dari fase Hellenisme Romawi, yaitu fase mengulang yang lama dan bukan fase mencipta yang baru. Neo Platonisme ini juga masih berkisar pada filsafat Yunani, tasawuf timur dan memilih dari sana sini, kemudian digabungkannya. Karena itu di dalamnya terdapat ciri-ciri filsafat Yunani yang kadang-kadang bertentangan dengan agama-agama langit, yaitu agama Yahudi dan agama Masehi, karena dasar filsafat tersebut ialah kepercayaan rakyat yang mempercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, mempercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, maka di dalam Neo Platonisme merupakan rangkaian terakhir atau rangkaian sebelum terakhir dari fase Hellensime Romawi, yaitu fase mengulang yang lama dan bukan fase mencipta yang baru. Neo Platonisme ini juga masih berkisar pada filsafat Yunani, tasawuf timur dan memilih dari sana sini, kemudian digabungkannya. Karena itu didalamnya terdapat ciri-ciri filsafat Yunani yang kadang-kadang bertentangan dengan agama-agama langit, yaitu agama Yahudi dan agama masehi, karena dasar filsafat tersebut ialah kepercayaan rakyat yang mempercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, maka didalam Neo Platonisme terdapat unsur-unsur Platonisme, Pythagoras, Aristoteles, Stoa dan tasawuf timur. Jadi Neo Platonisme mengandung unsur-unsur kemanusiaan (hasil usaha pemikiran manusia), keagamaan dan keberhalaan (bukan agama langit).
Neo Platonisme yang meliputi unsur-unsur ini semua datang kepada kaum muslimin dengan melalui aliran Masehi di Timur Dekat, tetapi dengan sampul lain, yaitu tasawuf Timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, zat “Yang pertama’, dengan ketungalan yang sebenar-benarnya.[6]

























BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dri pembahasan diatas  menunjukkan bahwa ada keterkaitan pemikiran yang berkembang antara budaya, pola pikir dan wawasan keilmuan antara Islam dengan Yunani & ROMAWI, dibuktikan dengan beberapa bentuk pengembangan keilmuan dan penerjemahan karya seseorang. Selain penggunaan teori-teori filosof Yunani & romawi diambil oleh filsuf Islam.
Para filosof Islam tercatat memberikan sumbangan pengetahuannya kepada perkembangan ilmu itu sendiri menamakannya dengan filsafat Islam. Hal ini menunjukkan Islam bukan sekedar nama agama.

B. SARAN
Islam bukan sekedar nama agama, tetapi juga mengandung unsur kebudayaan dan peradaban yang tinggi dalam filsafat dan layak untuk ditumbuhkembangkan kepada generasi sesudahnya.
Pembahasan materi ini mungkin masih kurang sempurna. Oleh karena itu penulis masih membutuhkan saran dan perbaikan dari para pembaca.









DAFTAR PUSTAKA
Rahman, Fazlur. 1994. A Young Muslim’s Guide to the Modern World. Alih Bahasa Menjelajah Dunia Modern. Bandung : Mizan
Panuju, Panut. 1994. Kuliah Filsafat Isla. Lampung : Gunung Pesagi
Supriyadi, Dedi. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung : Pustaka Setia
http://www.masbied.com/2010/06/04/filsafat-hellenisme-dan-romawi/
Madjid, Nurcholis. 1995. Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan. Jakarta: Paramadina.




















[1] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung : Pustaka setia, 2009), hlm. 15
[2] Panut Panuju, Kuliah Filsafat Islam, (Lampung : Gunung Pesagi, 1994), hal. 2

[3] Fazlur Rahman, A Young Muslim’s Guide to the Modern World, Alih Bahasa Menjelajah Dunia Modern, (Bandung : Mizan, 1994), hlm. 84
[4] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, 1995), Cetakan III, hlm. 218-219
[5] Dedi Supriyadi, Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung : Pustaka setia, 2009), hlm. 46

[6] http://www.masbied.com/2010/06/04/filsafat-hellenisme-dan-romawi/

1 komentar:

Sri wahyuni said...

artikel yang sangat menarik.....jangan lupa singgah di blog sya ya..duniapendidikan33.blogspot.com

Post a Comment

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Zudi Pranata. Powered by Blogger.
 
;