Sunday, April 29, 2012

Hadits Tentang Tanggung Jawab Pemimpin


-->
HADITS TENTANG TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN
MAKALAH
GUNA MEMENUHI TUGAS
HADITS
DOSEN PENGAMPU
Hj. HindunAnisah, SAg., MA
320636_2077541381436_1332036950_3154113_1454150994_n
DISUSUN OLEH: ZUDI PRANATA
NIM: 210191
FAKULTAS: TARBIYAH/ PAI
SEMESTER: 3D

 

INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’ (INISNU) JEPARA
SEMESTER 3D
2011
Jln Taman Siswa No.9 PekengTahunanJepara, 59427
Telp./fax (0291) 593132
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada era modern seperti sekarang ini kita telah melihat banyak berbagai sosok pemimpin dalam suatu wilayah Negara, dari atas hingga bawah dalam struktur ekstansi Negara hingga dalam sebuah organisasi pasti ada sosok seorang pemimpin.
Sebuah komunitas masyarakat dapat hidup dengan layak dan sejahtera pasti berkat seorang pemimpin, karena pemimpin adalah yang berwenang dan juga yang berhak mengatur serta memberikan kebijakan kepada seluruh komunitas masyarakat.
Dan untuk mencapai sebuah kesejahteraan dalam kehidupan sebuah komunitas masyarakat didunia dibutuhkan sosok seorang pemimpin yang bertanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugasnya.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latarbelakang permasalahan diatas dapat kita ketahui bahwa penting bagi kita untuk mengetahui sosok seorang pemimpin yang bertanggung jawab agar tercipta kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat di dunia.
Oleh karena itu dalam makalah ini kita akan membahas hadits tentang tanggung jawab pemimpin.









BAB II
PEMBAHASAN

A. HADITS TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

DalamkitabRiyadussholihin di jelaskan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه

Artinya:
Diriwayatkan Abdullah bin Maslamahdari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin umarr.aberkata :sayatelah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggung jawaban  perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan di tanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dar ihal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal-hal yang dipimpinnya. ( HR. Bukhori, Muslim)[1]

            B. PENJELASAN HADITS
            Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin adalah orang yang diberi amanatoleh Allah swt.untuk memimpin rakyat, yang di akhirat kelak akan dimintai pertanggung jawabannyaoleh Allah swt. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meloloskan diri dari tuntutan rakyatnya, karena ketidak adilannya, misalkan, ia tidak akan mampu meloloskan diri dari tuntutan Allah swt. kelak di akhirat.
            Oleh karenaitu, seorang pemimpin hendaknya jangan menganggap dirinyas ebagai manusia super yang bebas berbuat dan memerintah apa saja kepada rakyatnya. Akan tetapi, sebaliknya, ia harus berusaha memposisikan dirinya sebagai pelayan dan pengayom masyarakat, sebagaimana firman-Ny adalam al-Quran:

(٢١٥) ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنَ ٱتَّبَعَكَ لِمَنِ جَنَاحَكَ وَٱخۡفِضۡ
Rendahkanlah sikap mu terhadap pengikutmu dar ikaum mukminin. (Q.S.asy-Syu’ara : 215)[2]
Dalam sebuah hadits yang diterima dari siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi saw. Pernah berdo’a, “Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku lalu mempersuli tmereka, maka persulitlah baginya.Dan siapa yang mengurusi umatku dan berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.

Hal itu menunjukkan bahwa Allah dan Rasul-Nya sangat peduli  terhadap hambanya agar terjaga dari kezaliman para pemimpin yang kejam dan tidak bertanggung jawab.Pemerintah yang kejam dikategoirikan sebagai sejahat-jahatnya pemerintah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.

A’id bin Amru ra.ketika memasuki rumah Ubaidillah bin Ziyadiaberkata, hai anakku saya telah mendenga rRasulullah saw. bersabada,“sesungguhnya sejahat-sejahatnya pemerintahan yaitu yang kejam, maka janganlah kamu tergolong dari mereka.” (HR. Bukharidan Muslim)[3]

Pemimpin yang zalim yang tidak mau mengayomi dan melayani rakyatnya diancam tidak akan pernah mencium harumnya surga apalagi memasukinya, sebagaimana disebutkan pada hadits di atas.

Oleh karena itu, agar kaum muslim terhindar dari pemimpin yang zalim, berhati-hatilah dalam memilih seorangpemimpin. Pemilihan pemimpin harus betul-betul didasarkan pada kualitas, integritas, loyalitas, dan yang paling penting adalah perilaku keagamaannya.Jangan memilih mereka karena didasarkan pada rasa emosional, baik karena ras, suku bangsa, atau pun keturunan.Karena jika mereka dapat memimpin, rakyatlah yang akan merasakan kerugiannya.

Menurut Quraish Shihab, dari celah-celah ayat al-Quran ditemukan sedikitnya dua pokok sifat yang harus disandang oleh seseorang yang memikul suatu jabatan yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat. Kedua hal tersebut harus diperhatikan dalam menentukan seorang pemimpin.[4] Salah satu ayat yang menerangkan tentang hal itu adalah ungkapan putri NabiSyu’aib yang dibenarkan dan diabadikan dalam al-Quran:


(٢٦) ٱلۡأَمِينُ ٱلۡقَوِىُّ ٱسۡتَـٔۡجَرۡتَ مَنِ خَيۡرَ إِنَّ ….
Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah orang yang kuat lagi dipercaya. (Q.S. al-Qashash : 26)[5]
Begitu pula al-Quran mengabadikan alasan pengangkatan Yusuf sebagai kepala badan logistik sebagaimana diisyaratkan dalam ayat:


(٥٤)أَمِينٌ۬مَكِينٌالَدَيۡنَ ٱلۡيَوۡمَإِنَّكَ….
Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah seorang yang kuat lagi terpercaya. (Q.S. Yusuf:54)[6]
Kedua kriteria itu yang menjadi landasan utama ketika Abu Bakar ra.Menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ketua panitia pengumpulan Mushaf. Alasannya antara lain tersirat dalam ungkapannya, “Engkau seorang pemuda (kuat lagi bersemangat) dan telah dipercaya oleh Rasulullah saw. Untuk menulis wahyu. Bahkan Allah swt. Pun memilih Jibril sebagai pembawa wahyu-Nya, antara lain, karena malaikat Jibril memiliki sifat kuat dan terpercaya (Q.S. 82:19-21).

Pemimpin yang memiliki dua sifat tersebut, sangat kecil kemung kinan untuk berbuat zalim.Ia selalu berbuat dan bertindak sesuai dengan aspirasi rakyat.
Dan dalam sebuah hadits diriwayatkan tentang imbalan bagi pemimpin yang adil, sebagaimana sabdaRasulullah SAW:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُو بَكْرٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
Artinya
Diriwayatkan ab ubakar bin abisyaibah dan Zahair bin Harb idan ibnu numai rberkata Sufyan bin Uyainah dari Amr dan yakni bin Dinar dariamr bin AwsdariAbdullah bin ‘amru bin al ‘ash r.aberkata: rasulullah saw bersabda: sesungguhnya orang-orang yang berlakuadil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hokum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka. (HR. Muslim)[7]
Dalam hadis ini disebutkan bahwa imbalan bagi pemimpin yang adil adalah kelak di sisi allah akan ditempatkan di atas mimbar dari cahaya. Secara harfiyah, mimbar berarti sebuah tempat khusus untuk orang-orang yang hendak berdakwah atau berceramah di hadapan umum.Karenanya, mimbar jum’at biasanya mengacu pada sebuah tempat khusus yang disediakan masjid untuk kepentingan khotib.Sementara cahaya adalah sebuah sinar yang  menerangi sebuah kehidupan. Kata cahaya biasanya mengacu pada matahari sebagai penerang bumi, lampu sebagai penerang dari kegelapan, dsb.Oleh sebab itu, kata mimbar dari cahaya di dalam hadis di atas tentu tidak sertamerta dimaknai secara harfiyah seperti mimbar yang dipenuhi hiasan lampu-lampu yang bersinar terang, melainkan mimbar cahaya adalah sebuah metafor yang menggambarkan sebuah posisi yang sangat terhormat di mata allah. Posisi itu mencrminkan sebuah ketinggian status setinggi cahaya matahari.

Bila yang pertama tadi allah akan menjamin pemimpin yang berbuat adil dengan jaminan naungan rahmat dari allah, dan hadis selanjutnya menjamin dengan jaminan mimbar yang terbuat dari cahaya, makajaminan yang ketiga ini adalah jaminan sorga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ َأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ

Artinya:
Ijadl bin himar ra berkata: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: orang-orang ahli surga ada tiga macam: raja yang adil, mendapat taufiq hidayat( dari allah). Dan orang belas kasih lunak hati pada sanak kerabatdan orang muslim. Dan orang miskin berkeluarga yang tetap menjaga kesopanan dan kehormatan diri.(HR. Muslim).[8]



















BAB III
PENUTUP

            A. KESIMPULAN
            Seorang pemimpin adalah orang yang telah dipercaya oleh Allah swt.untuk memlihara sebagai kecil dari hamba-Nya di dunia. Maka ia harus berusaha untuk memelihara dan menjaganya. Jika tidak, ia tidak akan pernah merasakan harumnya surga, apalagi merasakan kenikmatan menjadi penghuninya.
Agar kaum muslimin memiliki pemimpin yang adil, yang mampu memelihara dan menjaga mereka, pemimpin yang dipilih adalah mereka yang betul-betul dapat dipercaya dan kuat dalam kepemimpinannya.

            B. SARAN
            Hendaknnya jika kita menjadi seorang pemimpin dapat berlaku adil dan bertanggung jawab agar dapat tercipta kehidupan yang sejahterah dalam kehidupan bermasyarakat di dunia ini
Pembahasan materi ini mungkin masih kurangs empurna.Oleh karena itu penulis masih membutuhkan saran dan perbaikan dari para pembaca.














DAFTAR PUSTAKA

Soenarto, Ahmad. Terjemahan Riyadus Shalihin. (Jakarta: Pustaka Amin, 1999).
Almath, Muhammad Faiz. Kumpulan hadist popular.(Jakarta: Gema Insani Press, 1994).
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. (Jakarta: LenteraHati, 2006).
http://www.quranexplorer.com/Quran/



[1]Soenarto, Ahmad. TerjemahanRiyadusShalihin. (Jakarta: Pustaka Amin, 1999)
[2] http://www.quranexplorer.com/Quran/
[3]Almath, Muhammad Faiz. Kumpulan hadist popular.(Jakarta: GemaInsaniPress, 1994)
[4]Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. (Jakarta: LenteraHati, 2006)
[5] http://www.quranexplorer.com/Quran/
[6] http://www.quranexplorer.com/Quran/
[7]Soenarto, Ahmad. TerjemahanRiyadusShalihin. (Jakarta: Pustaka Amin, 1999)
[8]Soenarto, Ahmad. TerjemahanRiyadusShalihin. (Jakarta: Pustaka Amin, 1999)

0 komentar:

Post a Comment

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Zudi Pranata. Powered by Blogger.
 
;