Saturday, February 23, 2013

Pengertian Al-Qur’an Dan Bukti Keotentikannya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupannya, agar memperoleh kebahagiaan lahir dan batin, di dunia dan akhirat kelak. Dalam memaknai nama al-Qur’an itu sendiri banyak perbedaan pendapat diantara para ulama’.
Selain itu sebagai sumber utama ajaran islam, al-Qur’an dalam membicarakan suatu masalah sangat unik, tidak tersusun secara sistematis sebagaimana buku-buku yang dikarang manusia. Namun demikian tidak mengurangi keistimewaan al-Qur’an, sebaliknya disitulah letak keistimewaan al-Qur’an yang membuatnya beda dari kitab-kitab lain dan buku-buku ilmiah. Hal ini membuat al-Qur’an menjadi objek kajian yang selalu menarik dan tidak pernah kering bagi kalangan cendekiawan, sehingga ia tetap atual sejak diturunkan beberapa abad yang silam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian al-Qur’an menurut para ahli ?
2.      Bagaimana bukti keotentikan al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dansejarahnya ?
3.      Bagaimana prilaku orang yang meyakini kebenaran al-Qur’an ?







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Menjelaskan pengertian Al-Qur’an menurut para ahli.
Allah swt. menurunkan kitab sucinya kepada Nabi Muhammad saw. dengan nama Al-Qur’an. Kata Qur’an, dari segi isytiqaqnya , terdapat beberapa pandangan dari para ulama, antara lain sebagai berikut :
1.      Pendapat dari al- Lihyan ,Qur’an adalah bentuk mashdar dari kata kerja qara’a, berarti “bacaan”. Kata ini selanjutnya, berarti kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.,pendapat ini berdasarkan firman Allah Swt. (al-Qiyamah / maka ikutilah bacaanya).
2.      Dari al- Zujaj, Qur’an adalah kata sifat dari al-qar’u yang bermakna al-jam’u (kumpulan). Selanjutnya kata ini digunakan sebagai salah satu nama bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. karena al- Qur’an terdiri dari sekumpulan surah dan ayat, memuat kisah-kisah, perintah dan larangan, dan mengumpulkan inti sari dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
3.      Menurut imam Syafi’I, kata al- Qur’an adalah ism alam, bukan kata bentukan dan sejak awal digunakan sebagaimana bagi kitab suci umat Islam.[1]
4.      Menurut al- Qurthubiy, kitab suci agama ini harus disebut Quran(tanpa hamzah), karena diangkat dari  kata qara’in yang berarti partner. Alasannya antara satu ayat dan ayat lainnya merupakan partner yang saling mendukung dan saling membenarkan.[2]

B.     Membuktikan keotentikan Al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dan sejarahnya.
a.       Ditinjau dari keunikan redaksinya.
Abdurrazaq Naufal dalam bukunya Al-Ijaz Al- ‘Adad Al-qur’an Al-Karim(kemukjizatan dari segi bilangan dalam Al-Qur’an) dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Misalnya :
-          (al-hayah /kehidupan) dan (al-maut/kematian) masing-masing sebanyak 145 kali.
-          (an-naf /manfaat) dan (al-fasad/kerusakan atau mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali.
-          (al-harr /panas) dan (al- bard/dingin) masing-masing 4 kali.
2.    Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan sinonim atau makna yang dikandungnya. Missalnya :
-          (al-harts/membajak [sawah]) dan (az-zira’ah/bertani) masing-masing 14 kali.
-          (al- ‘ujub/membanggakan diri atau angkuh) dan( al-ghurur /angkuh) masing-masing 27 kali.
-          (adh-dhallun/orang sesat) dan (al-mauta/mati jiwanya) ) masing-masing 17 kali.
3.    Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk pada akibatnya. Misalnya :
-          (al- infaq/menafkahkan) dan (ar-ridha/kerelaan) masing-masing 73 kali.
-          (al-bukhl/kekikiran) dan (al-hasrah/penyesalan) masing-masing 12 kali.
-          (al-kafirun/orang-orang kafir) dan (an-nar/neraka atau pembakaran) masing-masing 154 kali.
4.    Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya. Misalnya :
-          (al-israf/pemborosan) dan (as-sur’at/ketergesa-gesahan) masing-masing 23 kali.
-          (al-mau’izhah/nasehat atau petuah) dan (al-lisan/lidah) masing-masing 25 kali.
-          (al-asra/tawanan) dan (al-harb/perang) masing-masing 6 kali.
5.    Disamping keseimbangan-keseimbangan tersebut ditemukan pula keseimbangan khusus, misalnya:
-          Kata (yaum/hari) dalam bentuk tunggal,sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun.
-          Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada “tujuh”,dan penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula yaitu pada surah-surah Al-Baqarah :29, Al-Isra’:44, Al-Mu’minun : 86, Fush-shilat :12, Ath-Thalaq :12, Al-Mulk :3, dan Nuh : 15.
-          Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik (rasul), atau (nadzir/pemberi peringatan) keseluruhannya berjumlah 518 kali,dan ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi,dan  rasul, dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.[3]
b.      Ditinjau dari kemukjizatannya.
Kemukjizatan al-Qur’an pada dasarnya berpusat  pada dua segi, yaitu segi isi atau kandungan al-Qur’an, dan segi bahasa al-Qur’an.
1.      Segi isi atau kandungan al-Qur’an.
-          Al-Qur’an mengungkap sekian banyak ragam hal gaib seperti halnya mengungkap kejadian masa lampau yang tidak diketahui lagi oleh manusia, karena masanya yang telah demikian lama, seperti peristiwa tenggelamnya fir’aun dan diselamatkannya badannya.[4]
-          Dalam al-Qur’an banyak terdapat ramalan-ramalan tentang peristiwa-peristiwa yang belum terjadi tetapi kemudian betul-betul terjadi dalam sejarah sebagaimana diramalkan, misalnya, ramalan al-Qur’an tentang kemenangan akhir kerajaan Romawi dalam peperangan melawan kerajaan Persi, dan menjadi kenyataan sejarah pada tahun 624 M, yaitu 7 tahun sesudah ramalan al-Qur’an.
-          Al-Qur’an sebagai kitab suci Allah yang terakhir merupakan kitab suci yang lengkap dan sempurna, dimana pokok-pokok atau prinsip-prinsip ajaran yang dahulu yaitu Taurat, Zabur, dan Injil telah dibawa juga oleh al-Qur’an, bahkan dalam bentuknya yang sempurna. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa agama Islam yang dibawa Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad Saw. merupakan puncak kesempurnaan dari agama Allah yang diwahyukan kepada para Nabi-nya sejak Nabi yang pertama.[5]
2.      Segi bahasa al-Qur’an.
Dari segi bahasa, al-Qur’an merupakan bahasa bangsa Arab Quraisy yang mengandung sastra Arab yang sangat tinggi mutunya. Ketinggian mutu sastra al-Qur’an ini meliputi segala segi. Kaya akan perbendaharaan kata-kata, padat akan makna yang terkandung, sangat indah dan sangat bijaksana dalam menyuguhkan isinya.[6]
Dalam gaya bahasanya yang menakjubkan alQur’an mempunyai beberapa keistimewaan, diantaranya :
-          Kelembutan al-Qur’an secara lafzhiah yang terdapat pada susunan suara dan keindahan bahasanya.
-          Keserasian al-Qur’an baik untuk awam maupun kaum cendekiawan, dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan al-Qur’an.
-          Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana al-Qur’an memberikan doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.[7]
c.       Ditinjau dari sejarahnya.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. secara berangsur-angsur lebih dari 20 tahun.[8] Nabi Muhammad Saw. setelah menerima wahyu langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabat agar mereka menghafalnya sesuai dengan hafalan Nabi, tidak kurang dan tidak lebih. Dalam rangka menjaga kemurnian al-Qur’an, Nabi Saw. memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menulis ayat-ayat yang baru saja diterimanya disertai informasi tempat dan urutan setiap ayat dalam suratnya. Ayat-ayat tersebut ditulis dalam pelepah-pelepah kurma, batu-batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang.
Setelah rasulullah wafat pemeliharaan al-Qur’an dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Abu Bakar mengemban tugas pemeliharaan al-Qur’an dengan melakukan penghimpunan naskah-naskah al-Qur’an yang berserakan menjadi satu mushaf. Hal ini dikarenakan banyak para sahabat penghafal al-Qur’an yang gugur di medan perang Yamamah. Dalam pertempuran tersebut 70 orang penghafal al-Qur’an gugur. Kemudian baru pada masa Utsman bin Affan tersusun pembukuan al-Qur’an standar dalam rangka menjaga otentitas al-Qur’an sekaligus mereduksi dan mengantisipasi konflik internal sekitar qira’at pada masa itu. Sejak itu umat islam dalam membaca al-Qur’an berpegang pada bentuk bacaan yang sesuai dengan mushaf  Utsmani.

C.     Menunjukkan prilaku orang yang meyakini kebenaran Al-Qur’an.
Para Nabi atau rasul terdahulu memiliki mukjizat-mukjizat yang bersifat temporal, lokal dan material. Itu disebabkan misi mereka terbatas pada daerah dan waktu tertentu. Kenyatan itu jelas berbeda deangan misi Nabi Muhammad saw. beliau diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman dan pengutusan itu memerlukan mukjizat. Karena sofat pengutusan itu, bukti kebenaran beliau tidak mungkin bersifat lokal, temporal dan materil, namun bukti itu bersifat universal, kekal dan dapat dipkirkan, dan dapat pula dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia.
Al-Qur’an mengandung kebenaran Nabi Muhammad saw. bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam bentuk tantangan yang sifatnya bertahap, antara lain :
a.       Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Qur’an Allah swt.
b.      Al-Qur’an menantang mereka yang meragukannya untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Qur’an Allah swt.
c.       Al-Qur’an menantang mereka yang meragukannya untuk menyusun satu surah saja semacam Al-Qur’an Allah swt.
d.      Al-Qur’an menantang mereka yang meragukannya untuk menyusun sesuatu atau lebih kurang sama dengan satu surah dari Al-Qur’an Allah swt.
Hal-hal diatas merupakan tantangan dari Al-Qur’an terhadap siapa saja yang meragukan kebenarannya dan kebenaran Nabi Muhammad saw. sebagai utusan Allah.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·      Menurut imam Syafi’I, kata al- Qur’an adalah ism alam, bukan kata bentukan dan sejak awal digunakan sebagaimana bagi kitab suci umat Islam.
·      Bukti keotentikan Al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya: keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya, dengan sinonimnya, dengan jumlah kata yang menunjuk pada akibatnya, dengan kata penyebabnya.
·      Dari segi kemukjizatannya : Segi isi atau kandungan al-Qur’an dan segi bahasa al-Qur’an.
·      Dari segi sejarahnya : Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. secara berangsur-angsur lebih dari 20 tahun, kemudian baru pada masa Utsman bin Affan tersusun pembukuan al-Qur’an standar dalam rangka menjaga otentitas al-Qur’an sekaligus mereduksi dan mengantisipasi konflik internal sekitar qira’at pada masa itu. Sejak itu umat islam dalam membaca al-Qur’an berpegang pada bentuk bacaan yang sesuai dengan mushaf  Utsmani.
·       

B.     Penutup
Dengan makalah ini, saya buat yang semestinya tidak jauh dari kekurangan dan kesalahan, sehingga saran dan kritik yang konstruktif  sangat saya harapkan. Dan perlu ditinjau atau di kaji ulang untuk mencapai kesempurnaan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah dan para pembacanya.





DAFTAR PUSTAKA

-       Al Munawar, Said Agil Husin. 2005. Al- Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Ciputat : PT. Ciputat Press
-       Marzuki, Kamaluddin. 1992 . ‘Ulum Al-Qur’an. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
Shihab, M.Quraish. 2004. Mukjizat Al-Qur’an. Bandung : PT Mizan Pustaka


[1] Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A., Al- Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Ciputat : PT. Ciputat Press, 2005), Hlm.4-5
[2] Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-Qur’an,(Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,1992), Hlm.4
[3] M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2004),Hlm.140-143
[4] Ibid.,Hlm.194
[5] Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A.,Ibid.,Hlm.37-38
[6] Ibid.,Hlm.39
[7] Ibid.,Hlm.35
[8] Kamaluddin Marzuki, Ibid., Hlm.25

3 komentar:

dwest_insan said...

syukron jazakumulloh khoiron kasiron

Unknown said...

izin co-pas ^^

Unknown said...

TERIMAKASIHHH..

Post a Comment

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Zudi Pranata. Powered by Blogger.
 
;